Budaya Main Hakim Sendiri di Indonesia

Beberapa bulan sebelumnya, media dihebohkan dengan aksi mahasiswa BEM SI di depan Gedung DPR/MPR/DPD RI 11 April 2022 yang sempat menyita perhatian. Ade Armando saat itu hadir, tampil di tengah mendukung mahasiswa seperti seorang pahlawan. Namun naasnya, Ade Armando justru mengalami penganiayaan berat, yaitu babak belur seluruh badan dan ditelanjangi dengan hanya menyisakan “celana dalam.” Bukankah hal ini menunjukkan masih berlakunya budaya main hakim sendiri atau eigenrechting di tengah-tengah masyarakat? Lantas apakah penganiayaan yang berimplikasi dari budaya main hakim sendiri nyatanya masih rentan terjadi di Indonesia? Continue reading →

Waspada, Korupsi Menghantui Generasi Muda!

Dewasa ini, kasus korupsi seringkali dijumpai di Indonesia. Pada tahun 2004 hingga Mei 2021, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tercatat telah menangani hampir seribu kasus tindak pidana korupsi, yang didominasi oleh penyuapan sebanyak 775 kasus (KPK, Oktober 2021).

Seperti kita ketahui, sosok Nur Afifah Balqis saat ini sedang menjadi sorotan. Namanya dikenal luas setelah ditetapkan sebagai tersangka Koperasi Pemberantasan Korupsi (KPK).  Nurafifah terlibat kasus dugaan suap yang melibatkan Bupati Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur, Abdul Gafur Mas’ud. Nurafifah terkenal sebagai pelaku korupsi dengan usia 24 tahun yang terbilang masih muda. Miris namun nyata,   korupsi sekarang telah menghantui generasi muda. Lantas apakah ada peluang generasi muda untuk melakukan tindak pidana korupsi? Continue reading →

Anak-Anak Masih Rentan Mengalami Kekerasan

Pada 13 Desember 2021, masyarakat dikejutkan oleh pemerkosaan gadis di bawah umur yang dilakukan oleh ayah kandung dan kakaknya sendiri. Terdakwa yang tidak lain adalah kakak kandung dan ayah kandung korban sendiri, terbukti secara sah dan diyakini telah melakukan kekerasan seksual. Bahkan, tindak pidana tersebut telah dilakukan berulang kali.

Kekerasan seksual adalah satu dari ribuan kasus kekerasan terhadap anak. Akhir-akhir ini, memang banyak diberitakan soal kekerasan terhadap anak. Kenyataan itu sangat memprihatinkan dan makin meneguhkan persepsi bahwa anak-anak masih rentan mengalami kekerasan.

Secara yuridis formal, anak-anak memang telah dilindungi oleh Undang – Undang. Pemerintah telah menetapkan Undang Undang (UU) No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Berdasarkan Undang-Undang tersebut,  setiap anak berhak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Selain itu, dalam rangka meningkatkan efektivitas pengawasan penyelenggaraan pemenuhan hak anak, dibentuk juga Komisi Perlindungan Anak Indonesia yang bersifat independen. Namun, sayangnya meski Indonesia telah memiliki Undang-Undang Perlindungan Anak dan Lembaga khusus yang melindungi anak, trend kasus kekerasan terhadap anak terus meningkat. Continue reading →