ST 2023 , Langkah Awal Mendukung Tata Kelola Pertanian Nasional

Data yang lengkap dan akurat sangat penting bagi keberlanjutan pembangunan, termasuk data pertanian nasional. ST 2023 hadir sebagai solusi menjawab isu ketahanan pangan dan keberlanjutan pangan, di tengah ancaman krisis pangan yang terjadi di Indonesia dan berpeluang besar terjadi di Bangka Belitung. Lantas seberapa pentingkah peran ST 2023 dalam mendukung tata kelola data pertanian nasional?

Indonesia Terancam Krisis Pangan

Dunia saat ini sedang dihadapkan pada ketidakpastian global karena pandemi covid-19 dan perang antara Rusia dan Ukraina yang berujung pada terjadinya krisis pangan. Hal ini diperkuat  oleh pernyataan Presiden Jokowi yang mengungkapkan bahwa terdapat 19.600 orang mati kelaparan setiap hari karena krisis pangan di dunia (Kompas, 2022).

Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) juga memprediksi, pada tahun 2030, jumlah angka kelaparan akan meningkat sebesar 670 juta. Hal ini dipandang menjadi peringatan besar bagi dunia, terutama Indonesia, yang jumlah penduduknya berada di empat besar terbanyak di dunia. Masih tingginya ketergantungan bahan impor pangan Indonesia diprediksi  menjadi salah satu faktor pemicu Indonesia akan menghadapi kondisi rentan rawan pangan.

 

Peluang Bangka Belitung Terdampak Krisis Pangan

Krisis pangan merupakan permasalahan global yang perlu kita perhatikan bersama. Berkaca dengan Indonesia yang mengalami permasalahan krisis pangan, Bangka Belitung juga pernah menduduki posisi kelima dari 12 provinsi dengan indeks kerentanan pangan di bawah rata-rata nasional pada tahun 2018 (Kompas, 2022). Ketersediaan kebutuhan beras yang merupakan makanan pokok masyarakat Bangka Belitung masih tergantung dari ketersediaan beras luar wilayah. Produksi Beras di Bangka Belitung hanya dapat mencukupi 30 persen kebutuhan beras daerah (Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, 2022). Hal ini menunjukkan bahwa krisis pangan tidak hanya mengancam Indonesia, tetapi juga Bangka Belitung yang sebelumnya tergolong rentan terhadap permasalahan pangan.

Di lain sisi, kondisi eksisting lahan di Bangka Belitung saat ini sangat mengkhawatirkan. Hal ini tidak hanya disebabkan oleh alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan tambang, tetapi juga deforestasi yang makin menjadi. Produktivitas masyarakat yang cenderung menurun dalam lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan karena masih terpaku dengan lapangan usaha pertambangan yang saat ini dianggap menjanjikan, berpeluang besar mengancam ketersediaan pangan Bangka Belitung ke depannya

Potensi Sektor Pertanian di Bangka Belitung

Lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan hingga saat ini masih memberikan kontribusi yang besar dalam menopang perekonomian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pada triwulan I 2023, lapangan usaha pertanian memberikan kontribusi terbesar kedua terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebesar 19,87 persen. Apabila dibandingkan triwulan I 2022, progress lapangan usaha pertanian mengalami peningkatan sebesar 8,83 persen (BPS, 2023). Sementara itu, dilihat dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) TW I 2023 apabila dibandingkan TW I 2022 (year on year), lapangan usaha pertanian masih menjadi sumber pertumbuhan perekonomian Bangka Belitung terbesar yang mencapai 1,63 persen dari 17 lapangan usaha di Bangka Belitung. Hal ini menunjukkan bahwa lapangan usaha pertanian memegang peranan penting terhadap perekonomian Bangka Belitung. Selain berpeluang meningkatkan perekonomian Bangka Belitung dari segi pendapatan dan pertumbuhan ekonomi, tetapi pertanian juga berperan dalam menyediakan bahan pangan serta mewujudkan ketahanan pangan.

Mengingat potensi lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan di Bangka Belitung yang menjanjikan di tengah peluang ancaman krisis pangan, setidaknya diperlukan kebijakan untuk membuat keputusan dan mengevaluasi program yang termasuk dalam pembangunan pertanian di daerah.

 

ST 2023 Menjawab Isu Pertanian Global dan Nasional

Ibarat gayung bersambut, Badan Pusat Statistik pada tahun 2023 akan melaksanaan pendataan Sensus Pertanian atau yang dikenal dengan singkatan ST. ST 2023 tersebut menyediakan data untuk menjawab isu pertanian global dan nasional, di antaranya ketahanan pangan (food security) dan keberlanjutan (sustainability). ST 2023 menyajikan data untuk pembuatan keputusan berbasis bukti (evidence based decision) dalam mengatasi berbagai tantangan global dan nasional.

Berbagai persiapan telah dilaksanakan menyambut perhelatan akbar 10 tahunan tersebut baik di tingkat pusat maupun daerah. Salah satunya adalah Penyediaan Kerangka Induk Wilayah Kerja Statistik (Wilkerstat) yang mutakhir. BPS pada bulan Maret Tahun 2022 ini telah melaksanakan pemutakhiran kerangka induk sebagai dasar perencanaan dalam pelaksanaan ST2023. Kerangka induk yang dibangun tidak hanya pada muatan wilayah kerja statistik (Wilkerstat) saja, tetapi juga terkait penyusunan kerangka geospasial lahan pertanian.

Selanjutnya pada bulan Juni-Juli 2022 di seluruh Indonesia serentak dilaksanakan kegiatan Updating Direktori Perusahaan Pertanian (DPP) dan Direktori Usaha Pertanian Lainnya (DUTL). Tujuan dari Updating DPP dan DUTL adalah untuk memperoleh direktori yang lengkap dan terkini dari perusahaan pertanian dan usaha pertanian lainnya yang akan digunakan sebagai dasar pencacahan lengkap pada tahun 2023. Direktori Perusahaan Pertanian (DPP) adalah Direktori seluruh perusahaan pada subsektor pertanian yang berbadan hukum, baik kantor cabang/tunggal maupun kantor induk/pusat. Direktori Usaha Pertanian Lainnya (DUTL) adalah direktori usaha pertanian lainnya pada subsektor pertanian non rumah tangga dan non perusahaan/tidak berbadan hukum.

Sensus Pertanian 2023 diharapkan menjadi momentum terwujudnya sistem statistik pertanian terpadu yang mendukung perbaikan tata kelola basis data pertanian nasional. Untuk itu, diperlukan dukungan dan kerjasama dari Kementerian/Lembaga/OPD, organisasi yang terkait dengan pertanian dan partisipasi aktif seluruh masyarakat demi terlaksananya ST2023 yang paripurna sehingga menghasilkan data pertanian yang akurat dan bermanfaat, khususnya  untuk kemajuan Provinsi Bangka Belitung. Oleh karena itu, mari bersama sukseskan Sensus Pertanian 2023!

Tiongkok, Kiblat Arus Perdagangan Babel

Pejabat, eksekutif bisnis, dan ekonom Indonesia telah menyatakan keyakinannya bahwa pencabutan PPKM yang digaungkan oleh pemerintah akan meningkatkan perdagangan dan investasi bilateral. Indonesia sendiri acap kali dikaitkan dengan hubungan dagang yang lebih condong ke Tiongkok daripada kea rah Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa Tiongkok tetap menjadi mitra terbesar Indonesia untuk kedua ekspor tersebut dan impor, yang masing-masing berjumlah US$53,31 miliar dan $55,90 miliar dalam 10 bulan pertama tahun 2022. Continue reading →

Fenomena Dibalik Geliat Impor Babel

Berdasarkan rilis Berita Resmi Statistik Badan Pusat Statistik Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Januri 2022, pada November 2022, impor Bangka Belitung (Babel) melesat drastis mengalami peningkatan 508,69 persen dibandingkan impor Oktober 2022. Apabila dibandingkan kondisi Oktober 2022, pertumbuhan impor Babel mengalami peningkatan hampir dua kali lipat, yang mana pertumbuhan sebelumnya hanya mencapai 265,86 persen. Bahkan, apabila dibandingkan November 2020, pertumbuhan impor Babel melejit  hampir menyentuh angka 1.000 persen. Jauh berbeda dengan kondisi Oktober 2022 apabila dibandingkan dengan kondisi Oktober 2021, pertumbuhannya relatif kecil hanya mencapai 164,83 persen. Merunut perjalannya dari Januari hingga November 2022, pertumbuhan impor pada November 2022 mengalami peningkatan sebesar 109,37 persen. Impor Babel pada November 2022 tersebut memberikan kontribusi sebesar 62,53 persen terhadap peningkatan impor Januari hingga November 2022.  Lantas fenomena apa sebenarnya dibalik melejitnya impor Babel tersebut? Apakah geliat impor tersebut akan berdampak buruk terhadap perekonomian babel?

Impor tidak selalu Berdampak Buruk Terhadap Perekonomian

Dengan adanya impor, memungkinkan suatu wilayah untuk untuk memperoleh bahan baku, barang dan jasa suatu produk yang jumlahnya terbatas atau tidak mampu dipenuhi  dari produksi dalam negeri. Meskipun begitu, impor tidak berdampak buruk terhadap perekonomian.  Adanya impor secara tidak langsung akan mendukung stabilitas keuangan Babel. Stabilitas keuangan dalam hal ini dinilai penting untuk mendukung penyelenggaraan sistem keuangan yang efektif dan efisien agar mampu bertahan terhadap kerentanan internal dan eksternal, sehingga alokasi sumber pendanaan atau pembiayaan dapat berkontribusi pada pertumbuhan dan stabilitas perekonomian suatu wilayah.

Babel termasuk salah satu wilayah Indonesia yang turut melakukan aktivitas ekspor dan impor dari negara lain. Sejauh ini, kondisi neraca perdagangan Babel selalu mengalami surplus dengan nilai ekspor yang lebih besar dibandingkan impor. Perkonomian surplus menunjukkan kelebihan pendapatan yang dapat menstabilkan keadaan perekonomian, mengurangi pengeluaran pemerintah serta dapat mencegah dan mengendalikan inflasi.

 

 

 

Impor Babel didominasi oleh Golongan Barang Mesin/Peralatan Listrik

Pada November 2022, impor Babel melesat drastis meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Bahkan peningkatan juga terjadi apabila dibandingkan kondisi November 2021 (year on year) dan kumulatif dari Januari hingga November 2021 (c to c). Impor Babel pada November 2022 sebesar US$23,67 juta (BPS, 2022). Jumlah impor Babel tersebut delapan kali lipat lebih besar dibandingkan Oktober 2022, yang hanya mencapai US$3,89 juta. Apabila dibandingkan kondisi November 2021, jumlah impor November 2022 hampir 11 kali lipat lebih besar, yang mana impor Babel pada November 2021 hanya mencapai US$2,16 juta. Di lain sisi, apabila dirunut perjalanannya dari Januari 2022, jumlah impor Babel pada Januari hingga November 2022 mencapai US$68,63 juta. Jumlah impor tersebut hampir 2 kali lipat lebih besar dibandingkan kondisi 2021 yang hanya mencapai US$32,78 juta.

Secara keseluruhan, terdapat lima komoditas utama yang berkontribusi terhadap melesatnya impor Babel kondisi Januari hingga November 2022. Komoditas tersebut adalah mesin/peralatan listrik, bahan bakar mineral, mesin-mesin/pesawat mekanik, pupuk serta karet dan barang dari karet. Apabila dirunut dari Januari 2022, komoditas golongan mesin/peralatan listrik memberikan kontribusi terbesar terhadap impor Babel. Capaian impor Babel dari golongan tersebut adalah sebesar US$49,86 juta yang meningkat 150,86 persen dibandingkan kondisi Januari hingga November 2021 (BPS, 2022). Di lain sisi, nilai impor Babel golongan mesin/peralatan listrik tersebut pada November 2022 yang mencapai US$19,13 juta juga meningkat drastis 38.681,98 persen dibandingkan bulan Oktober 2022. Tak tanggung-tanggung, Golongan mesin/peralatan listrik mendominasi 74,51 persen komoditas impor Babel pada Januari-November 2022. Lantas, komoditas apa dari golongan mesin/peralatan listrik yang berkontribusi besar terhadap impor Babel?

 

Komoditas Utama dibalik Besarnya Kontribusi Golongan Mesin/Peralatan Listrik

Peningkatan impor yang mencapai puluhan ribu persen pada November 2022 dibandingkan kondisi satu bulan sebelumnya, memberikan tanda tanya komoditas apa dibalik peningkatan impor tersebut. Komoditas utama yang memberikan kontribusi besar terhadap impor Babel tersebut tak lain adalah kabel serat optik (HS 8544) dengan jumlah impor mencapai mencapai 1518,21 ton dengan nilai impor US$10,28 juta. Jepang menjadi negara utama asal pengimpor komoditas tersebut dengan kontribusi sebesar 99,91 persen, sementara itu sisa barang impor lainnya diperoleh dari United Kingdom.

 

Mengapa Babel harus impor?

Besarnya kebutuhan akan kabel serat optik tidak bisa dipenuhi oleh produksi dalam negeri  sendiri menuntut adanya impor komoditas tersebut dari negara lain. Industri kabel telekomunikasi lokal saat ini memang masih bergantung kepada impor  untuk mendapatkan high density polythylene (HDPE) foam sebagai bahan baku pembuatan kabel serat optik. Meningkatnya permintaan jaringan pita lebar (broad-hand) dan koneksi mesin ke mesin (machine to machine) dari platform internet of things (loT) diyakini mendorong tingginya permintaan kabel serat optik. Kabel serat optik saat ini digunakan untuk  modernisasi jaringan operator telekomunikasi  yang sebagian digunakan untuk sambungan internet. Dalam upaya pemerataan akses listrik di seluruh wilayah Babel yang sebelumnya merupakan program yang dicanangkan Gubernur Erzaldi Rosman dalam prioritas pembangunan, dilakukan pembangunan interkoneksi Sumatera-Bangka melalui kabel bawah laut sepanjang 36 kilometer (km) yang terbentang dari Landing Point Tanjung Carat, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan menuju Landing Point Muntok, Kabupaten Bangka Barat. Hal ini menyebabkan besarnya kebutuhan akan kabel serat optik tersebut.

Sejatinya, impor bermanfaat bagi Babel untuk mencukupi kebutuhan komoditas yang tidak mampu dipenuhi oleh produksi dalam negeri. Disamping itu, adanya impor juga mendukung stabilitas keuangan Babel. Selagi neraca perdagangan masih menunjukkan kondisi surplus, adanya impor merupakan hal wajar yang menguntungkan bagi perekonomian Babel.(*)

Pendidikan yang Tinggi, Upaya Menekan Angka Kematian Ibu

Nyatanya, hidup atau mati memang adalah sebuah pilihan bagi seorang ibu dalam melahirkan buah hatinya ke dunia, Namun, sangat disayangkan, kasus kematian ibu masih menjadi momok hingga saat ini. Bahkan, kasus kematian ibu  di Indonesia meningkat pada tahun 2021.  Lantas apakah masih ada peluang untuk memperkecil peluang bertambahnya kasus kematian ibu ke depannya?

Meningkatnya Kasus Kematian Ibu

Angka kematian ibu yang tinggi merupakan permasalahan kesehatan di Indonesia. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat, sebanyak 7.389 ibu di Indonesia meninggal pada tahun 2021. Jumlah tersebut meningkat 59,69 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 4.627 orang.

Tingginya jumlah kematian ibu saat melahirkan pada tahun lalu disebabkan oleh tertularnya virus Covid-19 yang mencapai 2.982 jiwa. Terdapat pula 1.320 ibu meninggal karena pendarahan, sebanyak 1.077 meninggal karena hipertensi dalam kehamilan dan sebanyak 335 meninggal karena penyakit jantung. Selain itu, terdapat pula 207 ibu meninggal ketika melahirkan karena infeksi, sebanyak 80 meninggal akibat gangguan metabolik, sebanyak 65 meninggal karena gangguan sisistem peredarah darah, sebanyak 14 meninggal karena abortus, dan terdapat 1.309 ibu meninggal karen lain-lain.

Indonesia saat ini menduduki peringkat ketiga sebagai negara dengan Angka Kematian Ibu (AKI) tertinggi di Kawasan negara ASEAN pada tahun 2021 (World Bank, 2021). Dibanding negara lainnya, Indonesia berada di urutan ketiga negara dengan AKI tertinggi dibandingkan negara ASEAN lainnya setelah Myanmar dan Laos. Beberapa faktor yang berkontribusi pada tingginya resiko AKI antara lain adalah prevalensi alat kontrasepsi dalam komunitas masyarakat yang masih rendah, jumlah persalinan lebih dari empat kali, kemiskinan, rendahnya populasi atau jumlah rumah sakit, akses ke dukun bersalin tradisional yang lebih tinggi dan sulitnya akses layanan kesehatan, dan jumlah dokter yang bekerja di pusat layanan kesehatan terdekat. Tingginya AKI saat ini merupakan tantangan yang harus dihadapi Indonesia sehingga menjadi salah satu komitmen prioritas nasional, yaitu mengakhiri kematian ibu saat hamil dan melahirkan (Susiana, 2019).

Fakta Angka Kematian Ibu di Indonesia

Angka Kematian Ibu atau AKI merupakan jumlah seluruh kematian selama periode kehamilan, persalinan, atau nifas di setiap 100.000 kasus kelahiran hidup. Namun penyebab kematian tersebut tidak termasuk yang disebabkan oleh kecelakaan atau terjatuh.

Selama puluhan tahun belakangan data AKI menurun dari 390 pada tahun 1991 menjadi 230 pada tahun 2020. Walaupun begitu, penurunan tersebut belum mencapai target Millennium Development Goals (MDGs) dan Sustainability Development Goals (SDGs). Di dalamnya terdapat berbagai point yang telah disepakati oleh para pemimpin dunia untuk menciptakan kehidupan manusia yang lebih baik. Target AKI menurut MDGs yaitu 102, sedangkan SDGs yaitu kurang dari 70. Berdasarkan Pusat Kajian Anggaran Badan Keahlian DPR RI, proyeksi AKI pada tahun 2030 yaitu sebesar 109-110 jika dilihat dari tren yang diambil dari data sejak tahun 2000. Angka tersebut tentunya belum memenuhi target yang diinginkan. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia memerlukan kebijakan extra-ordinary untuk menekan AKI.

Pendidikan dan Upaya Penurunan AKI

Dalam rangka upaya penurunan AKI, disusun suatu gerakan yang dinamakan Safe Motherhood. Safe motherhood merupakan upaya untuk menyelamatkan wanita agar kehamilan dan persalinannya sehat dan aman, serta melahirkan bayi yang sehat. Salah satu dari empat pilar Safe Motherhood adalah penolong persalinan dengan tenaga kesehatan.

Persalinan yang dilakukan di fasilitas kesehatan  nyatanya merupakan determinan yang memengaruhi kematian ibu. Hasil Susenas Maret 2020 menunjukkan bahwa sebanyak 88 dari 100 ibu melahirkan anak lahir hidup dalam dua tahun terakhir dan anak lahir hidup yang terakhir dilahirkan di fasilitas kesehatan (BPS, 2020). Persentase ini menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun 2018 dan 2019.

Pendidikan ternyata turut serta berpengaruh dalam menekan kematian ibu. Pada tahun 2020, persentase ibu dengan latar belakang pendidikan terakhir di atas Sekolah Menengah Atas (SMA) yang melahirkan anak lahir hidup serta ditolong oleh tenaga kesehatan jauh lebih tinggi dibandingkan tamatan SMA ke bawah. Persentase ibu yang melahirkan anak lahir hidup dengan latar belakang pendidikan SMA ke atas berkissar antara 97,72 persen sampai 99,34 persen. Sementara itu, persentase ibu yang melahirkan anak lahir hidup dengan latar belakang pendidikan SMA ke bawah berkisar antara 81,59 sampai 95,32 persen. Hal ini menegaskan bahwa semakin tinggi pendidikan yang ditamatkan oleh seorang ibu, maka semakin tinggi pula ibu yang melahirkan anak lahir hidup serta ditolong oleh tenaga kesehatan (BPS, 2020). Hal ini dikarenakan ibu yang berpendidikan tinggi cenderung lebih memperhatikan kesehatannya dan pengambilan keputusan yang terkait kegawatdaruratan kesehatan pun akan lebih cepat (Fibriana, 2007).

Pendidikan tinggi nyatanya juga penting bagi seorang ibu. Semakin tinggi pendidikan yang ditempuh, maka semakin kritis pola pikir yang terbentuk. Pola pikir yang baik akan membuat seorang ibu dapat berpikir kritis terhadap sesuatu dari berbagai sudut pandang, sehingga mampu memutuskan segala sesuatu dengan cepat dan tepat. Oleh karena itu, pentingnya peran ibu sejak dini untuk mengedukasi pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya, terutama anak perempuan yang merupakan cikal bakal seorang ibu masa depan. Mari bersama bantu pemerintah menekan Angka Kematian Ibu, dengan mengedukasi pentingnya pendidikan bagi anak perempuan sejak dini! (*)