Rokok Penyebab Kemiskinan

Badan Pusat Statistik mengumumkan angka kemiskinan di Indonesia pada kondisi September 2022 mengalami kenaikan dari 26,16 juta jiwa (9,54 persen) pada Maret 2022 menjadi 26,36 juta jiwa (9,57 persen) pada September 2022. Kemiskinan di perkotaan naik dari 7,50 persen menjadi 7,53 persen. Sedangkan kemiskinan di pedesaan juga naik dari 12,29 persen menjadi 12,36 persen.

Hal yang sama juga terjadi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, dimana secara umum kemiskinan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengalami peningkatan dari 4,45 persen pada Maret 2022 menjadi 4,61 persen pada September 2022. Namun jika dicermati antara wilayah perkotaan dan pedesaan, peningkatan jumlah penduduk miskin di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung hanya terjadi di wilayah perkotaan saja, sedangkan di perdesaan jumlah penduduk miskinnya mengalami penurunan. Jumlah penduduk miskin di perkotaan pada September 2022 sebanyak 30,21 ribu jiwa meningkat jika dibandingkan dengan kondisi Maret 2022 yang berjumlah 26,48 ribu jiwa. Sedangkan jumlah penduduk miskin di perdesaan turun dari 40,30 ribu jiwa pada Maret 2022 menjadi 39,48 ribu jiwa pada September 2022.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dalam Berita Resmi Statistik tanggal 16 Januari 2023, penyebab meningkatnya kemiskinan adalah kenaikan harga BBM per 3 September 2022 dimana untuk Pertalite naik 30,72 persen, Solar naik 32,04 persen, dan Pertamax (non-subsidi) naik 16,00 persen. Kenaikan harga BBM cukup berpengaruh pada kenaikan harga barang lainnya.

Kenaikan harga barang kebutuhan pokok tercermin dari tingkat inflasi. Pada September 2022 inflasi selama tahun 2022 sebesar 4,87 persen, dan inflasi September 2022 terhadap September 2021 sebesar 6,67 persen. Sementara periode Maret 2022–September 2022, angka inflasi umum tercatat sebesar 3,80 persen.

Faktor berikutnya adalah penurunan Nilai Tukar Petani (NTP) pada September 2022 dibandingkan dengan kondisi Maret 2022 yaitu dari 139,35 menjadi 119,03. Penurunan NTP ini menunjukkan penurunan tingkat kesejahteraan petani. Penurunan tingkat kesejahteraan petani disebabkan oleh kenaikan harga barang kebutuhan konsumsi dan ongkos usaha yang lebih besar daripada kenaikan harga barang komoditas hasil pertanian.

Selain faktor diatas, kenaikan jumlah penduduk miskin di Bangka Belitung juga disebabkan oleh penurunan harga komoditas unggulan Babel. Sektor pertanian dan pertambangan menjadi sektor terbanyak pertama dan kedua dalam penyerapan tenaga kerja di Babel pada Agustus 2022. Penurunan harga timah dan sawit ini berpengaruh terhadap pendapatan penduduk sedangkan di sisi lain harga-harga barang kebutuhan pokok mengalami kenaikan. Hal inilah yang memicu menurunnya daya beli penduduk dan menambah jumlah penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan.

Peranan komoditi makanan terhadap garis kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan). Pada September 2022, sumbangan garis kemiskinan makanan terhadap garis kemiskinan Babel sebesar 72,35 persen. Komoditi makanan yang berpengaruh besar terhadap garis kemiskinan diantaranya adalah rokok kretek filter, beras, daging ayam ras, telur ayam ras, kue basah,cabai, bawang merah dan mie instan. Sedangkan untuk komoditi bukan makanan diantaranya adalah biaya perumahan, bensin, listrik, dan pendidikan.

Hal yang sangat mengejutkan adalah pengeluaran untuk rokok pada penduduk miskin berperan sebagai penyumbang terbesar garis kemiskinan menggeser beras. Sumbangan rokok terhadap garis kemiskinan sebesar 14,66 persen untuk daerah perkotaan dan 16,82 persen untuk daerah perdesaan. Angka ini jauh di atas pengeluaran penduduk miskin untuk konsumsi ikan, telur dan tahu tempe. Meskipun rokok bagi sebagian orang sudah seperti kebutuhan pokok, namun amat disayangkan bagi penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan mengeluarkan uangnya untuk membeli rokok, yang justru akan menurunkan kesehatan dan produktifitasnya.

 Konsumsi Rokok

Seperti diketahui bahwa jumlah perokok di Indonesia diperkirakan mencapai 90 juta orang dan menempati peringkat satu dunia berdasarkan data The Tobacco Atlas 2015. Lebih miris lagi, konsumen rokok di Indonesia tidak hanya orang dewasa, namun juga anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah. Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), tercatat Bangka Belitung menduduki posisi nomor dua konsumsi rokok terbanyak se-Indonesia dengan rata-rata 120,61 batang per minggu. Usia paling banyak perokok yaitu generasi X dan generasi millenial dengan proporsi 1 dari 3 orang generasi tersebut adalah perokok. Rata-rata pengeluaran orang per bulan penduduk Bangka Belitung untuk konsumsi rokok pada Maret 2021 sebesar Rp107.750. Kalau satu rumah tangga terdiri dari empat orang maka sebulan untuk rokok menghabiskan uang sebanyak Rp431.000. Hal ini tentu sangat disayangkan, mengingat rokok tidak memiliki nilai gizi atau kalori jika dikonsumsi.

Tidak dapat dipungkiri bahwa cukai rokok menyumbang penerimaan negara yang cukup besar, yaitu sekitar 11,72 persen. Namun dengan biaya sosial yang harus dikeluarkan akibat efek samping rokok terutama di bidang kesehatan, belum juga kualitas hidup dan daya saing SDM, maka hal tersebut menjadi perhatian serius pemerintah untuk mengurangi jumlah perokok di Indonesia. Namun hal yang tentu tidak kita harapkan adalah kenaikan harga rokok tidak akan mengurangi konsumsi rokok karena menganggap rokok seperti kebutuhan pokok yang tidak bisa dihindarkan. Tentu kondisi ini akan mengurangi porsi untuk pengeluaran lainnya seperti untuk makanan, kesehatan, dan pendidikan. Yang pada akhirnya akan memperparah kemiskinan itu sendiri.

Dalam kesempatan ini tidak akan kita bahas tentang hukum rokok, karena hal tersebut akan menimbulkan pro kontra yang tidak akan pernah selesai. Seandainya pengeluaran untuk rokok tersebut dialihkan untuk konsumsi makanan lain yang mampu meningkatkan asupan gizi, seperti ikan, telur, tahu, tempe dan sumber protein lainnya tentu hal tersebut akan meningkatkan kualitas kesehatan dan meningkatkan produktifitas dalam belajar bagi anak-anak maupun dalam bekerja bagi orang dewasa. Sehingga pada akhirnya akan mampu meningkatkan taraf hidup penduduk dan mengeluarkannya dari jeratan kemiskinan. Melihat kenyataan di atas maka diperlukan adanya edukasi dan penyadaran bagi penduduk miskin untuk bijak dalam membelanjakan penghasilannya, sehingga mereka mampu membuat prioritas dalam pengeluaran dan dapat memilah mana saja yang dibutuhkan dan bermanfaat bagi keluarganya.

Kemiskinan merupakan permasalahan bersama yang harus dicari akar masalah dan solusinya. Bagi Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang sudah berhasil menurunkan tingkat kemiskinan di tingkat Provinsi, maka yang menjadi PR selanjutnya adalah bagaimana menurunkan tingkat kemiskinan di daerah pedesaan. Bagaimana kesejahteraan petani dan buruh tani di pedesaan meningkat. Karena merekalah tulang punggung dari produksi pertanian untuk mencukupi kebutuhan pangan di Kepulauan Bangka Belitung. Diperlukan program dan kerja nyata yang mampu memberantas kemiskinan sehingga tercapai Babel sejahtera.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *